Jumat, 15 Januari 2010

Interupsi fikiran bawah sadar

02/11/2009

Entah kenapa suatu saat kita dihadapkan pada suatu keadaan "stress", perasaan kacau, hati yang sangat tidak nyaman, ingin marah, frustasi atau emosi negatif semacamnya. Penyebab keadaan ini bisa kita ketahui atau tidak kita ketahui. 

Keadaan ini seperti ini sebenarnya merupakan interupsi fikiran bawah sadar, yang menginginkan sesuatu untuk kebaikan kita atau fikiran bawah sadar "merasa" ada kekurangan pada diri kita. Bila diperhatikan "fikiran bawah sadar" seperti anak kecil ketika meminta sesuatu atau takut akan sesuatu, pasti ia akan menangis meronta-ronta dan sering sekali kita tidak mengetaui bagaimana menghentikan tangisnya. Jalan pintas menghentikan tangisnya sangat berbahaya bagi "kehidupan" anak dimasa datang, kebijaksanaan orang tua untuk mencari tahu penyebab tangis anak kemudian membujuk anak supaya berhenti menangis akan sangat bermanfaat besar.

Yang utama bagi kita adalah pertama harus difahami interupsi bawah sadar bersifat kondisional, ketika belum bisa naik motor tidak ada "keinginan" untuk "ngebut" karena "ngebut" merupakan kondisi ketika sudah dan dalam mengendarai motor. Semakin banyak "program" kesadaran semakin banyak pula interupsi fikiran bawah sadar tentang keinginannya akan sesuatu atau takut akan sesuatu, karena itu yang kedua sebisa mungkin "mempelajari teknik-teknik" mendidik atau mengetahui kebutuhan "anak" fikiran bawah sadar supaya bisa mengetahui "cara" dan menyelamatkan.

Ketika sudah dalam kondisi interpsi yang intens, langkah-langkah yang sebaiknya kita ambil:

1. Mencoba tenang, "Bagaimana bisa tenang sedangkan fikiran lagi kacau?", ini pertanyaan yang pasti terlontar dalam keadaan seperti ini. Kita perlu tahu sumber "kekacauan". Pengetahuan dasar klasifikasi fikiran sangat diprlukan untuk mengetahui sumber, Kesadaran, emosi, ingatan dan firiran kritis, dari keempat elemen fikiran mana yang paling intens.

2. Pada saat interupsi intens, pasti terjadi self-talk (percakapan sendiri) dari "bagian-bagian diri". Hal ini sangat wajar dan "normal", secara alami yang namanya "kekacauan" pasti ada bagian-bagian yang bertikai. Sebagai penengah seharusnya fikiran "kesadaran" (kita) tidak boleh terjebak dalam pertempuran sehingga tidak tahu solusinya, apalagi ikut memperkeruh keadaan.

3. Sebagai penengah, kita atur dialog, yang pasti self-talk dalam keadaan sekacau apapun pasti satu-satu. Masing-masing bagian diri punya tujuan sendiri-sendiri, pasti ada kompromi dan sebenarnya sangat mudah. Dalam keadaan seperti ini ide fikiran negatif pasti muncul, tapi sekali-kali jangan mau diperdaya menjalankan ide ini. Sebagai contoh, mungkin kita pernah kena tilang polisi, diminta dan kita membayar sejumlah uang, dalam beberapa saat pastilah terjadi "kekacauan", dalam kondisi ini pasti muncul ide untuk "menyantet" sipolisi yang namanya sempat kita ingat. Ide positifnya kita "do'akan" sipolisi dengan do'a kebaikan.

4. Tetap intensif dengan selalu menjaga "emosi positif", dalam kondisi ini jangan sampai terjebak dalam emosi negatif seperti sedih, susah, malu, marah, bingung karena emosi negatif yang diikuti pasti akan membawa semakin negatif. Sekuat tenaga kita harus mengangkat dalam emosi positif seperti "sabar" dalam arti pasrah dan menerima, "syukur" karena sadar bahwa ini yang terbaik bagi kita. Emosi posif akan mendorong kita untuk mengetahui solusi terbaik apa yang harus dilakukan. Nantinya kita akan tahu bahwa kekacauan yang terasa menghimpit kita, membuat dada terasa sesak ternyata cukup dengan membuat afirmasi positif yang bisa mengakomodasikan keinginan masing-masing bagian diri kita.

5. Cari referensi, bisa dilakukan dengan baca buku, alqur'an, atau apa sajalah. Curhat dengan orang yang dianggap punya solusi bisa sangat membantu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar